AKULAH MASISIR, bukan inilah AL AZHAR
القاهرة إذا لم تقهرها, قهرتك
Al azhar adalah sebuah masjid
besar nan bersejarah, sejak dulu terkenal di negara mesir dan seluruh dunia, didirikan oleh jendral Daulah Fatimiyah
Jauhar As Siqly pada tahun 975 M, karena masjid ini menjadi pusat pengembangan
peradaban Islam di Mesir, dengan kegiatan kajian semua ilmu pengetahuan Islam
di Ruwaq atau bilik - bilik yang ada didalam Jami Al Azhar.
Seiring berjalanya waktu sejak
awal mula berdirinya Jami Al Azhar samapai sekarang, Al Azhar sudah berkembang
menjadi universitas besar dan mendunia, dimana dulu hanya sekedar bilik – bilik
sederhana, sekarang sudah berubah menjadi gedung megah yang menyejarah di
berbagai kota Mesir. Al Azhar sekarang tidak hanya memberikan fasilitas pendidikan agama
Islam semata, namun juga semua ilmu penegetahuan umum, mulai dari bidang kedokteran, ekonomi sampai social
politik. Karena sekarang Al Azhar ingin mengaktualisasikan Islam sesuai
perubahan dan perkembangan zaman saat ini.
Al Azhar telah melahirkan banyak ulama besar dan terkenal diseluruh dunia. Ulama dan pakar ilmu pengetahuan Islam yang berperan besar, penting serta universal dalam setiap perubahan
zaman dan perkembangan kehidupan suatu bangsa. Tidak hanya berperan dalam sisi pendidikan agama islam, namun mencakup semua lini kehidupan seperti sosial budaya, ekonomi dan politik, selaras dengan prinsip Islam Rahmatan Lil Alamin (Rahmat
untuk alam semesta).
Peranan
para ulama – ulama lulusan Al Azhar juga bisa kita lihat dan kita rasakan
dinegeri kita sendiri Indonesia. Banyak dari mereka yang telah memberi pengaruh
positif dan perubahan yang lebih baik dari sebelumnya. Kontribusi mereka hampir
sama dengan para ulama – ulama dari Al Azhar di setiap negara yang mereka
singgahi atau mereka berasal, yaitu dalam setiap lini kehidupan.
Sejak
dulu hingga sekarang mereka layaknya pelita Islam ditengah gelapanya
kehidupan yang fana, setetes air jernih dipadang gurun pasir
nan gersang. Contoh dari
mereka adalah Prof. KH. Said Agil Al Munawwar. MA menteri
agama di Indonesia, Dr. Quraisy Sihab dengan karangan tafsir Al Misbahnya, Dr
Syukri Zarkasyi pimpinan pesantren Gontor Ponorogo dan masih banyak lainya,
termasuk yang tidak dikenal banyak oleh kalangan umum di indonesia .
Sungguh
kita sebagai warga negara Indonesia patut berbangga diri atas prestasi dan pencapaian
mereka dibidang ilmu pengetahuan dan peradaban Islam. Apalagi kita yang sedang menuntut ilmu dengan para
ulama Al Azhar, dibumi para Nabi dan negeri seribu menara, seharusnya kita
semua bersyukur dan bangga karena telah bisa mengikuti jejak para ulama
Indonesia terdahulu, belajar agama di pusat keilmuan dan peradaban islam yang
telah mendunia, dengan harapan mampu meniru atau melebihi mereka dalam bidang
keilmuan juga bisa berkontribusi dalam perubahan bangsa Indonesia nantinya.
Namun
kebanggaan yang selama ini kita miliki dan kita sematkan pada diri kita yang
kemudian bisa menjadi pembakar semangat dalam menuntut ilmu di Al Azhar, tak
berpengaruh apa – apa dalam kehidupan kita setelah bersusah payah mengikuti
jejak mereka di sini, bumi para nabi, auliya dan ulama. Bahkan kebanggaan ini malah melenakan kita dan
menghilangkan keinginan kuat sebagian besar mahasiswa Indonesia di
Mesir. Ditambah dengan nama Al Azhar yang telah terkenal dan mendunia, sehingga
berlipat – lipat sudah kebanggaan mahasiswa Indonesia di Mesir.
Tidak
hanya karena kelenaan kita atas kebanggaan yang kita miliki saat ini, namun juga karena kita yang tidak menyadari betul akan tabiat dan kenyataan mesir sendiri, yang sejak dulu para ulama
telah mengingatkan kepada generasi penerus dan penuntut ilmu di Mesir. Kita lupa bahwa القاهرة إذا لم تقهرها, قهرتك ( al qohiroh atau kairo jika kau tak menariknya maka engkau
akan ditarik olehnya ). Inilah yang juga
membuat kita lebih terlena dan tertarik oleh mesir sendiri dalam sisi indahnya
kehidupan mesir, sehingga kadang atau bahkan sampai melupakan tujuan awal kita
sebagai penuntut ilmu di Al Azhar.
Maka sekarang ucapkan AKULAH
MASISIR, bukan inilah AL AZHAR, seperti saat Abu Dzar Al Ghifari sahabat nabi yang
menyatakan keislamanya dihadapan pemuka
Quraisy, dengan lafadz dua kalimat syahadat, penuh keyakinan dan kemantapan
hati, tanpa ada keraguan sedikitpun. Menggetarkan hatinya dan menggugah seisi
alam semesta. Hal inilah yang harus kita tunjukan kepada dunia dan bangsa Indonesia. Bukan mengatakan inilah Al Azhar tempat kami
menuntut ilmu, namun lihatlah aku yang akan menjadi Azhari sejati, cahaya
pelita bangsa dan negeri.
Sekarang, bukan saatnya kita
mahasiswa Indonesia Mesir sebagai calon Azhari sejati di masa depan, merasa
bangga dengan nama dan prestasi universitas Al Azhar selama ini, namun kita
masisir harus melihat para ulama besar, lulusan
Al Azhar yang telah berkontribusi besar, nyata dan benar, lalu mencoba dan
terus berusaha agar bisa mengikuti jejak mereka dalam menegakkan kalam ilahi,
dibawah naungan dan keridhoan pencipta hakiki. Serta turut andil dalam
menghilangkan kebodohan dan keterbelakangan peradaban bangsa, sehingga bisa
menjadi khalifah sejati di muka bumi ini, sesuai takdir yang telah digariskan
oleh Allah swt saat ini.
By : Hm2

Tidak ada komentar:
Posting Komentar